Saturday, April 20, 2013

Mintalah Maaf

Manusia biasa, tiada seorang pun yang tak pernah besalah. Karena kesalahan yang terkadang memang menjadi tabiat hidup manusia yang dijamin kemaksumannya.


Kesalahan, jika berhubungan denga Allah, bertaubatnya jauh lebih mudah. Beda dengan kesalahan yang terkait dengan sesama manusia. Mengapa? Karena untuk bertaubat dari yang pertama, cukup seperti apa yang dikatakan oleh Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, “Ulama berkata bahwa bertaubat dari setiap dosa itu hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga. Pertama, hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. Kedua, ia harus menyesali perbuatannya . Ketiga, ia harus kuat untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang maka taubatnya tidak sah. Meski beberapa ulama lain menambahkan keharusan untuk menebus kesalahan itu dengan amal shalih lainnya.



Sedangkan untuk kesalahan yang kedua, maka ditambah satu lagi yakni hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang yang disalahi. Jika berbentuk harta benda maka ia harus mengembalikannya. Jika berupa celaan, tuduhan atau pemukulan dan sejenisnya, maka ia harus meminta maaf dan rela diqishas.

Namun, rupa-rupanya ini yang kadang menjadikan seseorang memilih tetap terlilit dosa karena dia enggan menuntaskan urusannya kepada sesamanya, yang salah satunya meminta maaf. Hal itu bisa terjadi karena banyak sebab, tetapi kebanyakan lantaran rasa kawatir jika harga dirinya akan berkurang. Atau kedudukannya jatuh karena harus meminta maaf kepada orang lain. Apalagi orang tersebut secara strata sosial tidak lebih tinggi dibanding dirinya.

Anggapan tersebut jelsa keliru. Disamping akibatnya fatal karena sama haknya membiarkan ada masalah yang terpendam dan dengan begitu juga berarti memelihara dosa yang kelak di akhirat mesti harus dipertanggungjawabkannya. Bahkan sebenarnya meminta maaf adalah cermin jiwa yang besar dan wujud dari pribadi yang pemberani. Sungguh, kebesaran jiwa dan keberanian hati yang akan membawa pada kelapangan dada dan pikiran. Bebas masalah didunia, lepas dari tuntutan diakhirat.

Sebaliknya, bersikukuh untuk tidak mengakui kesalahaan dan tidak mau meminta maaf adalah bentuk kesombongan dan gambaran dari kerdilnya jiwa serta kepengecutan hati. Sebuah keadaan yang akan mempertemukan dengan kenyataan pahit,dibenci oleh sesama dan menjadi tidak berharga dalam pandangan manusia. Jelas bukan cara yang baik untuk menjaga harga diri.

Sumber : Majalah Ar-Risalah
 

Artikel Terkait

Ditulis Oleh : Joko Rahmady Hari: 8:37 PM Kategori:

Penulis : Joko Rahmady ~ Sebuah blog yang menyediakan informasi ~

Artikel Mintalah Maaf Di Tulis Oleh Joko Rahmady Pada Hari Saturday, April 20, 2013. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan kita semua. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Saran kritik kami terima, bisa lewat komentar
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan baik dan sopan.
Disarankan berkomentar di Comment Blog
Kritik Saran dan Tambahan kami tunggu ..

Terima Kasih (Jazakallah)